Kamis, 22 Oktober 2015

Hujan di Sore itu ...

Hujan di sore itu, aku selalu ingat masa kecil yg kita lewati...
Kau sering datang kerumah, mengetuk pintu dan memanggil namaku...
panggilan itu selalu berulang setiap hari... yaa setiap hari..
seakan - akan temanmu hanyalah aku....

Kau sering berikan senyuman indah setiap kali aku menyapamu di sore itu..
"ayoo main yuk" .... kata itu sudah tidak asing lagi  buat ku...
Kita tinggal di sebuah perumahan kecil...
dan benar....  anak kecil memang hanya kita berdua...
kamu tidak punya teman bermain selain aku....

Setiap hari kita selalu berdua... menghabiskan waktu, melakukan apapun yang ingin kita lakukan
teman kecil, aku sadar... kita tak selamanya  akan seperti ini...
namun aku tidak mau memikirkan itu,
yang jelas aku senang bisa selalu menemanimu bermain.
Aku suka melihatmu tertawa tanpa batas...
Namun kamu selalu mengulang permainan yang sama
dan itu membuatku bosan...

Terkadang kalau aku mengeluh, kamu langsung meminta maaf padaku...
seakan- akan kamu takut kalau aku marah...
tp jujur, aku juga takut kehilangan teman bermain sepertimu..
ku lepaskan senyuman indah yang aku miliki dan merangkulmu untuk bermain kembali...

Hujan di sore itu....
Aku masih ingat waktu kamu mengetuk pintu....
dan memanggil namaku untuk yang kesekian kalinya...
Aku sangat senang.....
karena teman kecilku datang untuk mengajakku bermain lagi...

Tapi...

kata- kata yang keluar dari mulutmu itu tdk sesuai dengan yang aku harapkan...
Aku pikir kamu mau main lagi tp ternyata tidak...

Hujan di sore itu...
yaaa... hujan di sore itu....
menjadi saksi bisu kata perpisahan untuk yang pertama kalinya...

Orang tuamu sudah hebat dengan karirnya dan memutuskan untuk pindah
dan aku tidak bisa menolak itu...

kamu sangat sedih.. sampai- sampai tdk ingin melepas tanganku...
tapi kamu harus pergi..

Yang aku sesali....
aku tidak bisa seceriah kamu setiap kali kita bermain...


Sekarang aku kembali mengingatmu...
mengingat wajah kecilmu....

karena di sore ini... tepat 15 tahun yang lalu...
kamu pergi meninggalkan aku....
dan tidak ada kabarmu sampai sekarang...


Teman kecilku,...
bagaimana kabarmu sekarang ??
Hanya itu yang ingin aku tau.....
hanya itu...

mungkin skrng kamu sudah menjadi wanita yang hebat...

Entah kapan kita di pertemukan kembali....

__TK__

Ciampea


22 Oktober 2015

Rapat internal salah satu divisi yang ada di Forum Pascasarjana  sedang berlangsung.  Ada beberapa pembicaraan berat yang perdebatkan, namun saya  tetap saja fokus di depan laptop kecil ini. Maaf, saya kurang memperhatikan pembicaraannya.
Senja sudah mulai menyapa, sebentar lagi rapat ini akan berkhir. Ya, biasanya di akhir rapat, baru saya memperhatikan secara seksama kesimpulan yang mereka bicarakan.

“Sekian rapat internal kali ini….”
“Terima kasih atas kehadiran teman2 anggota divsi “……””
“Wassalam…..” Kata kadivnya..

Mereka pun bersiap balik ke kosan masing-masing..

Namun saya masih stay di sini, di secret forsca untuk menyelesaikan cerita yang mungkin akhirnya tak tahu seperti apa.

Selamat tinggal senja, & selamat datang malam yang membawa bintang di langit Jawa.

Waktu tak terasa begitu cepat berlalu, seakan 24 jam itu tak cukup menyelesaikan semua pekerjaan ini.
Ya, melelahkan memang, namun menyenangkan.

20.15 Wib… Sepetinya saya harus segera pulang.. Pulang ke Ciampea,
Hahaaa, orang seperti saya , mungkin awal mendengar kata itu agak sedikit menggelitik, “lucu, sedikit aneh, namun unik”… Ciampea itu nama sebuah desa tempat tinggalku selama kuliah disini.

Teringat akan seseorang yang  selalu mengejek dengan kata itu (ciampea), ejek untuk menghibur sebenarnya.
Rindu dengan ejekan dia… Aneh ya, rindunya kok seperti itu.
Tapi ya, itu dulu… sekarang dia punya ejekan yang baru… Dia memang kreatif klo nge_bully orang..

Sampai sekarang, masih sering senyum-senyum sendiri klo sebut kata itu,
Padahal sudah lebih 1 tahun disini… 

Sampai-sampai klo ada yang bertanya, kamu tinggal dimana, ya saya bilang “di Cibanteng mas” haha…
maaf ciampea, bukan berarti melupakan mu, namun saya belum terbiasa menyebutmu di depan orang.

Coklat itu (part_1)


30 Desember 2013…
Airlangga, 20

Senin di siang itu, semua orang rumah bergegas untuk berangkat… melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah dari tadi menunggu kami, sembari melihat jam, dan ternyata sdh menunjukkan pukul 14.25 wita, itu artinya  kami harus berangkat sekarang sebelum ketinggalan pesawat..  dengan santainya, saya berjalan menuju pagar rumah dan membukanya dengan lebar, selang beberapa menit, seseorang menyapa yang membuat saya sedikit kaget, “nak, kamu yang nyetir yaa” sambil menatapku dengan muka yang  sedikit tersenyum. Senyumannya pun kubalas dengan sedikit candaan. Ya, begitulah kami. Anak sama bapak, yang terlalu seru untuk di kisahkan,

Patung Hasanudddin pun menyambut,
Selamat tinggal Makassar… &  selamat datang buat kami dikota kendari (Sulawesi Tenggara).  Kesan pertama, ya, aneh.. Aneh karena kendaraaan masih sangat kurang, gedung-gedung pencakar langit mash bisa di hitung jari, namun suhunya sangat panas.. tanpa ada terik yang begitu menarik.

Tak lama kemudian, Sebuah mobil berhenti di depan kami, & ternyata didalam mobil itu adalah orang yang menjadi alasan kenapa kami bisa sampai disini (kendari)…

 “Apa kabar kak ? “
“bagaimana kabar anak dan istrimu” kataku.
Dengan senyum yang sangat lepas dia pun jawab
“Alhadulillah baik, ayo naik mobil dlu… ntar kita cerita banyak dirumah”

Kangen juga dengan orang ini, kakak yang selalu membawaku main, menjadi penyelamat jika saya di ejek sama teman SD dulu. Tak berselang lama, mobilnya pun berhenti di sebuah rumah, yang menurutku lebih dari cukup buat keluarga kecil mereka.

Kulangkahkan kaki dengan setumpuk barang di tanganku. Kulihat sangat banyak mainan yang berserakan… dan itu menandakan klo keluaga ini sangat bahagia dengan kehadiran putri pertama mereka.

Sembari melepas rindu, saya pun duduk dilantai yang agak dingin… karna (hari itu sangat panas).
Hari-hari di kota Haluoleo ini pun ku nikmati, sampai hari dimana waktunya untuk membeli ole-ole khas orang sini Kami pun berangkat di beberapa tempat yang cukup terkenal, tak lupa membeli kacang mente yang mejadi cemilah khas Kendari.

Ku buka pintu mobil dan berjalan dengan santainya  ke toko itu…. Ada banyak cemilan disini…  Mataku tertuju pada sebuah coklat, dan tiba-tiba ku ingat dirimu. Kuambil sebuah coklat dengan ukuran kecil.. dan kuniatkan ini, sebagai ole-ole buat kamu nanti.
Saat itu, kami bergegas pulang ke rumah, sembari melihat senja yang menunjukkan jati dirinya sebagai penghilang kecerahan pagi.  Sampai di rumah, coklat buatmu ku simpan di tempat yang sangat aman… 
Kelelahan pun terlihat di raut wajah kami… sambil packing buat balik besok… sesekali kami keluar rumah untuk menikmati pergantian tahun yang sangat luar biasa perayaannya.

Selamat tinggal kota kendari, & Selamat datang kembali kota daeng (Makassar).
Capek, namun sangat mengesankan… Terima kasih atas penjalanan yang sangat luar biasa ini.

Bersambung…..

Selasa, 13 Oktober 2015

Menuju Senja


Mendengarkan lagi ini, serasa semuanya sangat damai. 
Jebolan band indie anak Jakarta yang terbentuk pada tahun 2007. 

"Payung Teduh"
Is dan Comi merupakan orang yang ada di belakang terbentuknya band ini. 
Aliran musik yang sangat nyaman, membuat pendengarnya seakan tak ada beban.

Menuju Senja, merupakan salah satu lagu yg paling saya suka... mendengarkan lagu itu sembari menunggu senja datang, seakan tak mau beranjak meskipun beberapa saat. 



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Harum mawar di taman 
Menusuk hingga ke dalam sukma
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
Di sore itu menuju senja

Bersama hati yang terluka, tertusuk pilu 
Menganga luka itu di antara senyum
Dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan
Bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian 
Ada yang mati saat itu dalam kerinduaan yang tak terobati
 

[melodi]

Harum mawar di taman
Menusuk hingga ke dalam sukma
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
Di sore itu menuju senja

Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu 

Ada yang mati menunggu sore menuju senja, bersama...
 

Harum mawar di taman
Menusuk hingga ke dalam sukma
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
Di sore itu menuju senja

Minggu, 04 Oktober 2015

Alumni Pertanian ? "Itu Pilihan"


SARASEHAN ...


Dalam memperingati 75 tahun Pendidikan Pertanian di Indonesia..
@IICC Bogor

1 Oktober 2015, saya mendapat undangan dari petinggi Institut Pertanian Bogor, sebagai perwakilan Pascasarjana Departemen Agonomi dan Hotikultura yang masih dibawah naungan Fakultas Pertanian IPB.

SARASEHAN adalah pertemuan yang diadakan untuk mendengarkan pendapat atau saran dari seorang ahli dalam bidang tertentu untuk memecahkan atau menuntaskan suatu masalah yang terjadi.

Pada saat itu, semua yang hadir adalah pembicara, tidak memandang umur, jabatan atau apapun itu..
Ini merupakan undangan yang sangat luar biasa, yang harus saya manfaatkan... Manfaatkan sebaik mungkin, karena di  tempat inilah saya bisa menyampaikan apa yang saya rasakan selama ini.

Di buka Oleh Rektor IPB,
& kegiatannya pun dimulai,

Prof Syafrida Manuwoto, Minuk Nardiana Pambudy (Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas) merupakan salah satu pembicara inti pada saat itu....

Inti dari pebicaraan adalah, bagaimana cara agar calon mahasiswa tidak menganggap  bahwa alumni pertanian harus bekerja di bidang pertanian saja, tetapi bisa di berbagai bidang.

--------------------------------------------------------------------

Sedikit kisah ...
Oleh Ibu Ninuk Mardiana Pambudy (Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas)

Ketika saya lulus dari jurusan Agronomi Fakultas Pertanian IPB 32 tahun lalu, tidak pernah terlintas saya akan berprofesi sebagai seorang wartawan. Seperti cita-cita setiap mahasiswa Agonomi, saya juga ingin bekerja di bidang pertanian. Saya bahkan siap bila harus ditugaskan bekerja di Papua, mempraktekkan ilmu yang saya dapat di IPB.

Namun, waktu kemudian membuktikan saya melamar di Harian Kompas sebagai wartawan dan telah saya jalani selama 31 tahun.

Pertanyaan yang selalu diajukan kepada saya saat memulai profesi sebagai wartawan adalah MENGAPA SEORANG SARJANA PERTANIAN DARI PERGURUAN TINGGI TERNAMA SEPERTI IPB BEKERJA MENJADI WARTAWAN ? Profesi tersebut jauh dari semua ilmu yang diajarkan di ruang kuliah Agronomi.

Ketika itu saya kebingungan menjawab petanyaan tersebut. Namun saya kembalikan pertanyaan itu...

KENAPA TIDAK ??

Pertanyaan-petanyaan itu mengusik saya cukup lama. Sampai saya bertemu dengan Prof Andi Hakim Nasoetion kira-kira 3-4 tahun setelah menjadi wartawan.

Kegelisahan saya mendapat jawaban memuaskan, bahkan sampai sekarang tidak ada jawaban lain bagi saya yang lebih  jitu daripada yang  diberikan almahum.

Pak Andi mengatakan "Pendidikan Tinggi, mengajarkan kepada setiap mahasiswa agar mempunyai kemampuan berpikir secara runtut, membuat analisa dan mencari solusi atas persoalan.

Saya yakin jawaban Pak Andi tersebut bukan karena ingin menghibur seorang mahasiswanya yang merasa tersesat. Dia menjawab dengan sungguh-sungguh serius dan memberi argumen cukup panjang.

Semakin kesini saya semakin memahami jawaban Pak Andi. Pendidikan tinggi memang mengajarkan cara berpikir runtut dan analitis. Barangkali itu sebabnya banyak lulusan pertanian bekerja diluar bidang pertanian.


"Ada banyak PILIHAN" & Kedewasaan membuatmu  memilih yang terbaik"_Jb