SARASEHAN ...
Dalam memperingati 75 tahun Pendidikan Pertanian di Indonesia..
@IICC Bogor
1 Oktober 2015, saya mendapat undangan dari petinggi Institut Pertanian Bogor, sebagai perwakilan Pascasarjana Departemen Agonomi dan Hotikultura yang masih dibawah naungan Fakultas Pertanian IPB.
SARASEHAN adalah pertemuan yang diadakan untuk mendengarkan pendapat atau saran dari seorang ahli dalam bidang tertentu untuk memecahkan atau menuntaskan suatu masalah yang terjadi.
Pada saat itu, semua yang hadir adalah pembicara, tidak memandang umur, jabatan atau apapun itu..
Ini merupakan undangan yang sangat luar biasa, yang harus saya manfaatkan... Manfaatkan sebaik mungkin, karena di tempat inilah saya bisa menyampaikan apa yang saya rasakan selama ini.
Di buka Oleh Rektor IPB,
& kegiatannya pun dimulai,
Prof Syafrida Manuwoto, Minuk Nardiana Pambudy (Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas) merupakan salah satu pembicara inti pada saat itu....
Inti dari pebicaraan adalah, bagaimana cara agar calon mahasiswa tidak menganggap bahwa alumni pertanian harus bekerja di bidang pertanian saja, tetapi bisa di berbagai bidang.
--------------------------------------------------------------------
Sedikit kisah ...
Oleh Ibu Ninuk Mardiana Pambudy (Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas)
Ketika saya lulus dari jurusan Agronomi Fakultas Pertanian IPB 32 tahun lalu, tidak pernah terlintas saya akan berprofesi sebagai seorang wartawan. Seperti cita-cita setiap mahasiswa Agonomi, saya juga ingin bekerja di bidang pertanian. Saya bahkan siap bila harus ditugaskan bekerja di Papua, mempraktekkan ilmu yang saya dapat di IPB.
Namun, waktu kemudian membuktikan saya melamar di Harian Kompas sebagai wartawan dan telah saya jalani selama 31 tahun.
Pertanyaan yang selalu diajukan kepada saya saat memulai profesi sebagai wartawan adalah MENGAPA SEORANG SARJANA PERTANIAN DARI PERGURUAN TINGGI TERNAMA SEPERTI IPB BEKERJA MENJADI WARTAWAN ? Profesi tersebut jauh dari semua ilmu yang diajarkan di ruang kuliah Agronomi.
Ketika itu saya kebingungan menjawab petanyaan tersebut. Namun saya kembalikan pertanyaan itu...
KENAPA TIDAK ??
Pertanyaan-petanyaan itu mengusik saya cukup lama. Sampai saya bertemu dengan Prof Andi Hakim Nasoetion kira-kira 3-4 tahun setelah menjadi wartawan.
Kegelisahan saya mendapat jawaban memuaskan, bahkan sampai sekarang tidak ada jawaban lain bagi saya yang lebih jitu daripada yang diberikan almahum.
Pak Andi mengatakan "Pendidikan Tinggi, mengajarkan kepada setiap mahasiswa agar mempunyai kemampuan berpikir secara runtut, membuat analisa dan mencari solusi atas persoalan.
Saya yakin jawaban Pak Andi tersebut bukan karena ingin menghibur seorang mahasiswanya yang merasa tersesat. Dia menjawab dengan sungguh-sungguh serius dan memberi argumen cukup panjang.
Semakin kesini saya semakin memahami jawaban Pak Andi. Pendidikan tinggi memang mengajarkan cara berpikir runtut dan analitis. Barangkali itu sebabnya banyak lulusan pertanian bekerja diluar bidang pertanian.
"Ada banyak PILIHAN" & Kedewasaan membuatmu memilih yang terbaik"_Jb

Tidak ada komentar:
Posting Komentar